headerphoto

Hacked by dKad0x

Sabtu, 6 Juli 2013 13:48:20 - oleh : admin

Oleh : Ir. Paiman, MP.
Dosen Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas PGRI Yogyakarta (UPY)


Kebanyakan petani dalam melakukan usahataninya selalu menggunakan pola pikir yang telah diwariskan oleh leluhurnya. Mereka selalu melakukan kegiatan seperti orang tuanya terdahulu, jarang berani mencoba penemuan-penemuan hasil penelitian yang terbaru. Sebagai contoh, kalau petani mempunyai tanah sawah berpengairan teknis (tanah yang selalu berair) maka mereka akan menanam padi  sebanyak tiga kali dalam setahun. Ada juga tanah tadah hujan, maka pada awal musim hujan ditanami jagung dan setelah itu baru ditanami tanaman padi atau palawijo. Dalam mengelola ushataninya dilakukan sesuai kemampuan mereka masing-masing. Kebiasaan seperti di atas dilakukan dari tahun ke tahun dan sudah menjadi  adat kebiasaan (rutinitas).
Sementara ada petani yang hanya bersemangat menanami tanahnya pada saat awal tanam dan dua minggu berikutnya dibersihkan rumputnya (disiangi) dan dipupuk. Dan selanjutnya ditinggalkan dan ditenggok pada saat panen. Petani semacam ini sering gagal panen karena tidak serius menanganinya, pekerjaan bertani hanya sebagai pekerjaan sampingan. Mereka lebih suka sebagai karyawan atau bekerja di tempat yang bersih. Kegagalan panen tidak dirasakan menjadi risiko karena sudah disadari jauh sebelumnya.


Sementara di tempat lain, bertani merupakan pekerjaan pokok. Mereka mengoptimalkan sumber daya yang ada baik dari segi input maupun output. Sering disebut petani petingan (utun). Mereka sering untuk mendapatkan saprodi dengan cara kredit pada KUD dan pada saat penen baru dibayar. Kenapa mereka berperilaku demikian? Karena hasil pertanian satu-satunya penghasilan untuk mempertahankan hidup dan masa depan keluarga.


Permasalahan yang banyak dihadapi sekarang adalah kepemilikan lahan yang sempit. Jika lahan dikelola tidak optimal, hasil tetap rendah dan kebutuhan hidup petani tidak dapat terpenuhi akibatnya petani tetap miskin.


Petani yang memiliki lahan sempit harus berani merubah pola pikir yang dimiliki selama ini. Petani harus berani berperilaku abnormal (nyleneh) artinya mereka harus berani tampil beda dari biasanya terhadap usahataninya baik dari komiditi yang yang ditanam atau teknologi yang digunakan dibandingkan petani di sekitarnya. Untuk menjadi petani abnormal, mereka harus berani belajar  pada orang yang lebih sukses atau berpengalaman dalam usaha taninya. Disamping itu, selalu mencari peluang dengan studi banding ke tempat lain sekiranya dipandang penting. Dan dari belajar tersebut, maka segala informasi baik teknik budidya maupun pangsa pasar dapat dikuasai.


Petani abnormal adalah petani yang berpikir tidak seperti masyarakat tani di sekitarnya, tetapi cenderung berani mengambil keputusan lain dari kebiasaan yang sudah menjadi adat kebiasaan. Mereka sering dikatakan orang yang tidak waras oleh masyarakat tani. Mereka berani demikian dengan pertimbangan yang cukup matang, walau risiko yang dialami cukup tinggi. Mereka memilih komiditi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Petani abnormal adalah petani yang berani mengambil risiko dan  jumlah petani demikian  di masyarakat tidak banyak.


Petani yang menggunakan teknologi dan jenis tanaman sama seperti di sekitarnya disebut petani normal. Petani yang melakukan usahataninya asal-asalan disebut petani sampingan. Petani yang yleneh disebut petani abnormal. Siapa petani yang sukses dalam usahataninya ?  jawabnya adalah petani  abnormal. Petani normal bisa sukses seperti petani abnormal, bila petani normal berani nyleneh seperti petani abnormal.

Petani abnormal selalu bepikir faktor keuntungan yang lebih tinggi sehingga dalam menjalankan usahataninya selalu memperhatikan aspek berikut.


a. Aspek Budidaya, aspek ini harus memperhatikan konsep agroklimatologi. Ada empat gatra penting yang harus diperhatikan. 1). Gatra penyesuaian, gatra ini mengandung maksud bahwa tanaman yang diusahakan/ditanam disesuaikan dengan iklim yang ada, maka biaya akan lebih murah dalam pemeliharaanya. 2). Gatra peramalan, gatra ini mengandung arti apabila terjadi keadaan ekstrim yang sering menyebabkan kegagalan panen dapat diantisipasi atau dikurangi dengan memperhatikan ramalan cuaca. Peramalan ini tidak meningkatkan hasil tetapi hanya mengurangi resiko kegagalan panen. 3). Gatra substitusi, gatra ini mengandung maksud menggantikan unsur iklim yang mesthinya ada menjadi tidak ada. Misalnya hujan tidak kunjung datang, maka dibuat sumur pompa untuk pengairan. 4). Gatra modifikasi yaitu merupakan gatra yang dinamis yaitu merubah suatu keadaan menjadi batas tertentu artinya iklim mikro yang tidak sesuai dengan tuntutan tanaman diusahakan menjadi sesuai,  dengan penggunaan mulsa plastik perak hitam.


b. Aspek Pangsa Pasar,  petani abnormal selalu memperhatikan permintaan pasar, karena mereka berpikir hasil yang tinggi belum tentu menguntungkan bila tidak ada permintaan pasar. Maka di dalam memilih komoditi tanaman yang akan ditanam diusahakan hasilnya harus diminati konsumen. Petani abnormal tidak akan memilih komoditi yang ditanam oleh kebanyakan petani, karena mereka berpikir pasti pada saat panen terjadi booming dan harganya turun.


Dari tulisan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa petani abnormal adalah petani yang berani mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam usahataninya dengan memperhatikan aspek budidaya dan pangsa pasar. Akibatnya dengan kepemilikan lahan yang sempit dapat memberikan keuntungan yang setinggi-tingginya.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "pertanian" Lainnya